Langsung ke konten utama

Mental Layak Dijajah

Malik Bin Nabi, seorang penulis, filosof sekaligus insinyur asal Al-Jazair, mengatakan bahwa gerbang masuk imperialisme adalah mental layak dan rela dijajah yang Beliau sebut dengan Al-Qaabiliyah li Al-Isti'mar. Mental ini membuka diri terhadap serangan penjajahan dari kebudayaan atau peradaban luar. Di masa-masa menjelang runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani, penyakit ini menjangkiti para pemuda Islam di Turki. Sultan Abdul Hamid II menuturkan dalam memoarnya (مذكرات السلطان عبد الحميد الثاني), Generasi muda Turki sangat terbuka dan bangga dengan peradaban Barat. Sehingga mereka merasa mendapat berkah ketika bisa mengidentikkan diri dengan wajah Barat, di saat yang bersamaan mereka merasa kerdil dan rendah diri sebagai muslim. Manusia-manusia bermental seperti inilah yang kelak mempersiapkan jalan dan membukakan pintu bagi para agresor untuk meruntuhkan kekhalifahan Turki Utsmani yang sudah lebih dari 600 tahun lamanya menjadi rumah besar kaum muslimin.

Tidak dipungkiri bahwa dunia saat ini dikuasai peradaban Barat. Mungkin hampir semua aspek yang hubungan dengan manusia, dipengaruhi ideologi dan cara pandang barat. Sektor ekonomi, politik, budaya, nilai (value), estetika dan keindahan, sains alam, sains social, teknologi, Pendidikan, dan sebagainya, semua sains yang dilahirkan peradaban barat ini mengambarkan dipengaruhi cara pandang Barat. Tragisnya semua ilmu disusupi secara epistemologis oleh kebudayaan Barat.

Kita (muslim) tentu tidak bisa lepas dari cengkraman peradaban Barat dalam hampir semua aspek, saat ini, karena mereka yang menggenggam peranan peradaban. Aspek bahasa, ekonomi, politik, sosial, budaya, sains alam, sains sosial, nilai estetika dan keindahan, dan sebagainya. Let's say saya ambil salah satu contoh, aspek bahasa. Sebagai bahasa resmi peradaban saat ini, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari bahasa Inggris. Anak-anak kita yang baru kelas 2 SD saja sudah dicekoki pelajaran Bahasa Inggris. Untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, apalagi mau mengambil beasiswa, pasti mensyaratkan penguasaan Bahasa Inggris di level tertentu, yang pada saat ini diwakili dengan test TOEFL (Test of English as Foreign Language) atau IELTS (International English Language Testing System). Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar (mayoritas) dalam perkuliahan di kampus-kampus manapun. Baik mempelajari sains alam, teknologi, sains social, filsafat, agama dan sebagainya. Mengapa demikian? Karena Bahasa Inggris merupakan bahasa resmi peradaban Barat yang menguasai dunia saat ini.

FYI: Sebagaimana Bahasa Inggris saat ini menjadi bahasa internasional, Bahasa Arab pernah menjadi bahasa resmi peradaban dunia di masa kejayaan Islam. Sebagaimana kita saat ini yang dipaksa menguasainya, demikian juga seluruh dunia di masa kejayaan Islam, wajib menguasai Bahasa Arab. Karena Bahasa Arab saat itu menjadi bahasa resmi pengantar komunikasi khususnya menjadi bahasa pengantar di mimbar-mimbar ilmu di kampus-kampus muslimin. Bahkan para pemuda eropa pada masanya bangga bisa berbahasa arab dan tampil ke arab-araban.

Lalu bagaimana sikap seorang muslim, yang saat ini menghadapi cengkraman peradaban barat, bisakah kita mengambil ilmu, budaya, seni, atau produk apapun yang datang dari Barat? Maka perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini ketika kita, muslim, akan mengambil faidah dari peradaban Barat:

Pertama, memiliki kebanggaan terhadap agama Islam. Kebanggaan terhadap agama Islam ini dihasilkan dari pengenalan Islam dengan baik. Mengetahui betapa ajaran Islam adalah satu-satunya agama yang komprehensif. Mengenal sejarah betapa gemilangnya Islam dan berbahagianya dunia ketika Islam memimpin dunia ini. 

Kedua, tidak silau dengan peradaban lain. Ini penting dimiliki sebelum melangkah mengambil produk peradaban lain. Sikap ini hanya akan lahir jika kebanggan terhadap agama Islam kuat tertancap dalam jiwanya. selama tidak memiliki kebanggan terhadap Islam, rentan seorang muslim terpapar syubhat silau dengan peradaban Barat.

Ibn Khaldun mengatakan تقليد المغلوب للغالب "bangsa yang kalah itu cenderung mengekor kepada bangsa yang menang." Orang-ornag yang silau dengan peradaban Barat, akan cenderung bangga jika bisa meniru dan bisa mirip-mirip dengan orang Barat. Lambat laun mereka akan akan bangga bisa melafalkan kata-kata "bijak" mereka, cara berbusana mereka, cara beragama, berfilsafat, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Mengapa demikian? karena orang-orang yang seperti ini memiliki persepsi bahwa segala seuatu yang datang dari Barat adalah maju, canggih, sempurna, tanpa cela. Mereka akan merasa rendah diri di hadapan bangsa Barat, dan merasa mendapatkan keberkahan dan menjadi merasa beruntung dijajah oleh penguasa peradaban.

Ketiga, Muslim boleh terbuka menerima hasil kebudayaan lain dalam sains atau produk sains yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. JANGAN sekali-kali mengambil hasil peradaban lain yang berhubungan dengan dogma-dogma agama atau metode beragaman. Karena sumber agama bagi muslim sudah jelas, Al-Quran dan Sunnah. Kemudian sains atau produk sains tersebut tidak bertentangan dengan aqidah kita sebagai muslim, dan tidak berbenturan dengan syariat Islam.

Keempat, mengukur mana yang termasuk kategori sains atau produk sains yang bermanfaat harus ditimbang oleh ilmu agama yang mumpuni, yang mendalam. Penguasaan ilmu agama yang rasikh (mendalam) menjadi suatu keniscayaan untuk memutuskan mana khazanah perdaban luar yang akan diterima/diadopsi. Jika tidak memiliki ilmu yang mendalam, maka tanyakan kepada para ulam ayang otoritatif dalam bisang ilmunya.

Kelima,  Memiliki komitmen yang kuat terhadap Islam. Komitmen yang dimaksud di sini benar-benar menjaga aturan Islam ditegakkan sesuai kadar kemampuannya. Dia berpegang teguh pada aqidah, syariah, dan direfleksikan dalam akhlaq yang indah di kehidupan kesehariannya.

Ketidak komitmenan terhadap islam akan menggelincirkan seorang muslim pada mengikuti hawa nafsunya. Sehingga bukan lagi kebenaran Islam yang menjadi pijakan dan alat ukur dalam menerima produk peradaban Barat, namun hawa nafsu. Sikap ini akan, akan mengakibatkan ketebukaan yang membabi buta dan tanpa batas. Jika sudah demikian, maka produk kebudayaan luar akan diterima tanpa memandang benar-salah, baik-buruk, bermanfaat-merusak. 

Ketiadaan lima perkara di atas, akan menghasilkan mental rendah. mental yang layak untuk dijajah, al-qaabiliyyah li al-isti'mar, sebagaimana dikatakan Malik bin Nabi. Akan menghasilkan sosok-sosok muslim yang menjadi juru bicara peradaban Barat, menjadi agen-agen Barat. Sehingga ummat ini dibaratkan oleh guru-guru muslim di lembaga-lembaga pendidikan Islam sebagaimana dikatakan Ismail R Faruqi. Nas'alu Allaha as-salamata wa al-'aafiyah.

Wallahu a'lam bi as-shawab

(ADH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membersihkan Kaki Sapi

Iedul Qurban 1431 H ini saya mendapatkan 1 kaki sapi. Sudah kebayang, dengan kaki sapi ini saya mau membuat mie kocok atau sup kaki sapi, makanan yang saya sukai. Tiba di rumah, masalah muncul, gimana caranya ngebersihin kaki sapi? Sempat nanya ke tetangga (Umi Imas), dan jawabannya sungguh gampang, katanya: "masukin aja ke air panas, trus gosok sampai bulunya lepas. Kalo dah lengket masukin ke air panas lagi, gosok lagi." Tidak yakin dengan tips tersebut, saya coba searching dan dapat tips yang lebih lengkap, dari http://oilin.multiply.com. Ini dia tipsnya: Siapkan wadah/panci untuk merebus kaki sapi. Isi dengan air hingga setengahnya. Larutkan satu sendok makan kapur sirih, lalu didihkan. Setelah mendidih, masukkan/celupkan kaki sapi yang mau dibersihkan ke dalam air itu kira-kira satu menit, kemudian angkat. Kemudian keriklah bulu-bulu tesebut menggunakan pisau. Lepaskan kuku pada kaki sapi dengan mencongkelnya, bisa menggunakan tangan, atau obeng. Bulu-bulu ...

Makna Imanan & Ihtisaban

Dari Abu Hurairah a Nabi Muhammad ﷺ bersadba:  مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  “Barang siapa puasa di bulan ramadhan dengan keimanan dan ihtisab, maka dosa-dosanya pasti diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)  Apa makna dengan keimanan dan ihtisab? Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam bukunya "Majalis Syahri Ramadhan." Imanan yaitu dilandasi keimanan kepada Allah dan ridha/rela terhadap kewajiban puasa atas dirinya. Ihtisaban Yaitu berharap ganjaran dan pahala dari Allah semata. Tidak membenci kewajiban puasa, dan tidak ragu terhadap ganjaran dan pahalanya.  Dr Ali bin Yahya Al-Haddadiy, memberikan komentar terhadap hadits ini di halaman webnya https://www.haddady.com :  Tidak bermanfaat amal shaleh seseorang, kecuali ketika dilandasi iman kepada Allah ﷻ , dan mencari balasan dari-Nya, subhanahu wata’ala. Adapun orang yang melaksanakannya tanpa iman, sebagaimana orang-orang munafiq, atau orang ya...

Catatan Kasus Vina Cirebon Dari Sudut Pandang Pendidikan Keluarga Muslim

Di awal munculnya kasus Vina Cirebon, saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti beritanya. Rasanya berita pembunuhan itu hanya menambah galau dan membebani pikiran saja, saking seringnya muncul dan saya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Terlebih sebagai seorang pendidik, berita seperti itu menambah sedih betapa tidak berdampaknya pendidikan nasional, yang saya saat ini masuk sebagai pelakunya. Sampai akhirnya beberapa santri mengajak diskusi tentang film Vina, khususnya tentang tema kerasukan arwah orang yang sudah meninggal, barulah setelah itu saya mau membaca kronologis kasusnya dari sebuah laman berita 1) karena untuk diskusi tersebut saya harus memiliki pengetahuan walau secara umum. Dari sana terpikir untuk menulis catatan berkaitan dengan kasus ini dari sudut pandang sebagai pendidik dan sebagai orang tua. Maka pada artikel singkat ini saya hanya menyoroti aspek tanggung  jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Pertama: Tanggung Pendidikan Anak Dalam Syariat Isl...