Langsung ke konten utama

Memuliakan Majelis Ilmu

Diantara cara memuliakan majelis ilmu adalah dengan MEWANGIKANNYA. Hadir di majelis ilmu dengan tubuh yang bersih, segar, wangi, tentu akan lebih baik dibanding yang hadir alakadarnya. Terlebih ketika belajar ilmu yang berkaitan langsung dengan syari'at kita ini, seperti Ilmu Al-Quran; Hadits: Aqidah; Fiqih; dan sebagainya. 

Salah seorang guru saya, hafizhahullah, semasa pandemi ketika majelis ilmu saat itu masih via zoom (kami menyebutnya mulazoomah, plesetan dari mulazamah), Beliau mengharuskan kami, murid-muridnya, tetap tampil bersih menjaga wudhu dan berfarfum. Meskipun tidak tercium oleh guru atau murid yang lain, karena kami berjauhan di tempat masing-masing, namun wewangi yang dipakai itu menunjukkan pengagungan hati para murid terhadap majelis ilmu yang sedang berlangsung.

Aroma tubuh Nabi kita yang mulia, shallallahu alaihi wa sallam, itu wangi. Bahkan mungkin kita pernah membaca atau mendengar riwayat ibunya Anas bin Malik menampung keringatnya Nabi karena wangi. Namun ternyata beliau tetap menyukai dan menggunakan wewangi. Maka seharusnya kita yang badannya tidak sewangi Beliau, shallallahu alaihi wa sallam, lebih merasa butuh terhadap wewangian baik yang disebut parfum, thib, dan sebagainya.

Parfum selalu hadir di majelis ilmu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membersihkan Kaki Sapi

Iedul Qurban 1431 H ini saya mendapatkan 1 kaki sapi. Sudah kebayang, dengan kaki sapi ini saya mau membuat mie kocok atau sup kaki sapi, makanan yang saya sukai. Tiba di rumah, masalah muncul, gimana caranya ngebersihin kaki sapi? Sempat nanya ke tetangga (Umi Imas), dan jawabannya sungguh gampang, katanya: "masukin aja ke air panas, trus gosok sampai bulunya lepas. Kalo dah lengket masukin ke air panas lagi, gosok lagi." Tidak yakin dengan tips tersebut, saya coba searching dan dapat tips yang lebih lengkap, dari http://oilin.multiply.com. Ini dia tipsnya: Siapkan wadah/panci untuk merebus kaki sapi. Isi dengan air hingga setengahnya. Larutkan satu sendok makan kapur sirih, lalu didihkan. Setelah mendidih, masukkan/celupkan kaki sapi yang mau dibersihkan ke dalam air itu kira-kira satu menit, kemudian angkat. Kemudian keriklah bulu-bulu tesebut menggunakan pisau. Lepaskan kuku pada kaki sapi dengan mencongkelnya, bisa menggunakan tangan, atau obeng. Bulu-bulu ...

Catatan Kasus Vina Cirebon Dari Sudut Pandang Pendidikan Keluarga Muslim

Di awal munculnya kasus Vina Cirebon, saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti beritanya. Rasanya berita pembunuhan itu hanya menambah galau dan membebani pikiran saja, saking seringnya muncul dan saya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Terlebih sebagai seorang pendidik, berita seperti itu menambah sedih betapa tidak berdampaknya pendidikan nasional, yang saya saat ini masuk sebagai pelakunya. Sampai akhirnya beberapa santri mengajak diskusi tentang film Vina, khususnya tentang tema kerasukan arwah orang yang sudah meninggal, barulah setelah itu saya mau membaca kronologis kasusnya dari sebuah laman berita 1) karena untuk diskusi tersebut saya harus memiliki pengetahuan walau secara umum. Dari sana terpikir untuk menulis catatan berkaitan dengan kasus ini dari sudut pandang sebagai pendidik dan sebagai orang tua. Maka pada artikel singkat ini saya hanya menyoroti aspek tanggung  jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Pertama: Tanggung Pendidikan Anak Dalam Syariat Isl...

Mendidik Seperti Merawat Pohon

  Fatimah adalah seorang anak perempuan kecil yang beradab, oleh karena itu ayah dan ibunya mencintainya. Ia juga perempuan cerdas, suka bertanya tentang segala sesuatu yang ia tidak mengerti. Pada suatu hari ia berjalan-jalan bersama ibunya di kebun, maka ia melihat pohon mawar yang sangat indah, akan tetapi pohon itu bengkok. Maka Fatimah bertanya: "Betapa indah pohon ini! Akan tetapi mengapa ia bengkok wahai ibu?" Sang ibu menjawab: "Karena Tukang Kebun tidak memperhatikan serta tidak meluruskannya semenjak dari kecilnya, maka jadilah ia bengkok." Fatimah berkata: "Lebih baik, kita meluruskannya saja sekarang." Maka ibunya tertawa dan berkata: "Tidak Mudah yang demikian itu wahai Anakku, karena ia sudah tumbuh besar, dan ranting-rantingnya pun sudah kuat.” Demikianlah seorang anak yang tidak beradab dari kecilnya, tidak mungkin ia beradab pada waktu ia telah besar. Kisah singkat di atas adalah penggalan dari kitab Al-Akhlaq Al-Banat jilid per...