Langsung ke konten utama

Kebiasaan Buruk saat Iedul Fitri

[caption id="" align="alignleft" width="209" caption="-------------"][/caption]

Sudah 27 hari kita menjalani shaum ramadhan. mudah-mudahan Allah berkenan menerima segala kebaikan  dan memaafkan segala kesalahan dan keburukan yang kita lakukan selama 27 hari ini.

Beberapa ormas islam sudah mengumumkan jatuhnya 1 syawal 1432 H. Ada yang mengumumkan 1 syawal 1432 H bertepatan dengan 30 Agustus 2011 M.  Artinya ormas ini menjalani ramadhan 29 hari, dengan alasan bahwa ketinggian hilal sudah sampai 2 derajat, itu artinya tanggal 31 Agustus 2011 sudah masuk bulan baru hijriah. Ada pula ormas  yang sudah mengumumkan bahwa 1 syawal bertepatan dengan 31 Agustus 2011 M. Ormas ini mengambil patokan bahwa dengan kondisi hilal seperti saat ini sulit terlihat. Dengan demikian mereka memilih untuk menggenapkan hitungan ramadhan menjadi 30 hari. Namun saya bukan ingin membahas perbedaan ini. Karena wilayah perbedaan pengambilan suatu keputusan yang menyangkut urusan umat islam dalam jumlah massal tidak boleh diputuskan atas dasar pertimbangan pribadi. Harus ada lembaga (majelis) yang dipercaya untuk memutuskan hal-hal besar seperti ini.

Yang ingin saya sampaikan adalah kebiasaan-kebiasaan tidak islami yang sering dilakukan umat islam pada saat Idul Fitri. Mengingat iedul fitri tinggal 2 atau 3 hari lagi, maka hal ini perlu menjadi renungan bersama. koq direnungkan? jawabannya supaya tidak terjebak pada kebiasaan JAHILIAH yang terus berulang dilakukan.

Diantara kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak islami ini antara lain:

1. Begadang di malam Idul fitri.

Kebanyakan umat islam merayakan iedul fitri sejak mulai maghrib terakhir bulan ramadhan. Mereka melakukan berbagai pesta dimalam tersebut. Ada yang pesta makanan,  ada pesta kembang api, dan lain-lain.

Pesta lainnya yang sering dianggap ibadah adalah PESTA TAKBIRAN. Banyak umat islam merayakan malam iedul fitri dengan takbiran keliling kampung sambil menabuh "bedug" dan memberikan rasa kurang nyaman bagi orang lain yang ingin istirahat. Pesta takbiran seperti ini sudah jelas tidak islami karena mengganggu ketertiban umum. Bukankah Rasulullah pernah berpesan bahwa: "Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)

Selain mengganggu, takbiran di malam iedul fitri tidak disunnahkan (dicontohkan) Rasulullah, maupun para sahabat. Mereka melantuntkan takbir iedul fitri setelah shalat subuh sampai ke lapangan tempat shalat ied dilaksanakan. Simak perkataan beberapa catatan berikut ini:

  1. ”Bahwa jika Rasul akan berangkat ke lapang belau bertakbir dan mengangkat suaranya dengan TAKBIR “.(R. asy-Syafi’i)

  2. Adalah beliau berangkat ke musholla pada hari fitri apabila telah Shubuh kemudian beliau takbir sampai datang ke musholla hingga imam duduk. maka takbir di hentikan”. (R. asy-Syafi’i)

  3. “sesungguhnya takbir idul fitri itu dimulai sejak keluar untuk sholat ied sampai dngan awal khotbah”. (Fiqh Sunnah, Jilid 1)


Selain tidak sesuai dengan sunnah, begadang malam iedul fitri menyebabkan ngantuk esok harinya. Tidak sedikit gara-gara begadang semalam suntuk, mereka menghabiskan hari iedul fitri untuk tidur. Tidak melaksanakan shalat ied, tidak mengunjungi karib keluarga dan tetangga untuk saling mendoakan. Lebih parahnya lagi mereka tidur menjelang subuh, sehingga shalat subuh tidak dilaksanakan.

2. Berjabat tangan laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim

Sudah menjadi tradisi (yang baik tentunya), pada saat iedul fitri saling bermaafan dan saling mendoakan. Namun sayangnya, tradisi baik ini umumnya dinodai dengan kebiasaan jahiliyah, khususnya berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrimnya.

Persentuhan fisik antara laki-laki dengan perempuan non muhrim adalah haram. Saking beratnya kesalahan tersebut, beliau berkata: “Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk menggunakan jarum dari besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh perempuan yang tidak halal untuk dia sentuh” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir no 16881 dari Ma’qil bin Yasar). sementara jabat tangan adalah salam satu bagian dari persentuhan.

Simak kisah yang disampaikan Ummul Mu'minin Aisyah RA ketika Rasulullah membai'at para shabat dari golongan perempuan:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji kaum mukminat yang berhijrah kepada beliau dengan firman Allah Ta’ala: “Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita yang beriman untuk membaiatmu….” Sampai pada firman-Nya: “Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” Urwah berkata, “Aisyah mengatakan: ‘Siapa di antara wanita-wanita yang beriman itu mau menetapkan syarat yang disebutkan dalam ayat tersebut’.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Sungguh aku telah membaiatmu”, beliau nyatakan dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” ‘Aisyah berkata, “Tidak, demi Allah! Tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita pun dalam pembaiatan. Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali hanya dengan ucapan, “Sungguh aku telah membaiatmu atas hal tersebut.” (HR. Bukhari No. 4891)

Dalam hadits yang lain Rasulullah berkata: "Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita." (HR Malik, Nasa'i, Tirmidzi, Ibnu Majah, ahmad)

Dengan beberapa riwayat tersebut jelas bahwa berjabat tangan (persentuhan fisik) antara laki-laki dengan peremouan yang bukan mahramnya adalah haram.

3. Para Wanita Berdandan Ketika Keluar Rumah

Berdandan adalah naluri, fitrahnya kaum perempuan, walaupn ada beberapa laki-laki yang suka berdandan (ihhh....). Berdandan dalam islam sangat dianjurkan, namun untuk menyenangkan hati suaminya. Tidak dibenarkan seornag muslimah berdandan agar terlihat cantik di mata semua laki-laki yang bukan mahramnya. Karena perilaku demikian adalah perilaku jahiliyah, perilaku yang jauh dari menjaga kehormatan dan kesucian diri. Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, …” (QS. Al Ahzab [33] : 33). Ayat di atas secara terang-terangan melarang para muslimah berdandan secara berlebihan sebagaimana orang-orang jahiliyah dahulu.

Fenomena saat ini, wanita berdandan (tabarruj) dan dengan bangga memamerkannya kepada setiap orang yang ditemuinya. Mereka sangat ingin terlihat cantik dihadapan semua orang. Padahal kecantikan seorang perempuan dalam islam hanya boleh terlihat oleh tiga orang:

  1. Suaminya. Seorang perempuan harus selalu terlihat cantik, bahkan (maaf) terlihat sexy di depan suaminya.

  2. Laki-laki yang mahram. Perempuan boleh menampakan kecantikannya dihadapan laki-laki yang mahram seperti bapaknya, pamannya, anak-anaknya, adik/kakak kandungnya, dan semua yang disebut mahram dalam QS. An-Nisa: 23. Namun perlu diingat bahwa menampilkan kecantikan disini tidak sebebas menampilkan kecantikannya dihadapan suami. Seorang muslimah tetap harus menjaga aurat-aurat pribadinya dan tetap berpakaian sopan.

  3. Muslimah lainnya. Seorang muslimah boleh menampakan perhiasannya/kecantikannya dihadapan muslimah yang lain, dengan batasan yang sama dengan poin kedua.


<bersambung, Insya Allah>

4. Mengkhususkan berziarah qubur saat iedul fitri

5. Makan berlebihan

6. Asik "silaturahmi" sampai lupa shalat

Wallahu A'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membersihkan Kaki Sapi

Iedul Qurban 1431 H ini saya mendapatkan 1 kaki sapi. Sudah kebayang, dengan kaki sapi ini saya mau membuat mie kocok atau sup kaki sapi, makanan yang saya sukai. Tiba di rumah, masalah muncul, gimana caranya ngebersihin kaki sapi? Sempat nanya ke tetangga (Umi Imas), dan jawabannya sungguh gampang, katanya: "masukin aja ke air panas, trus gosok sampai bulunya lepas. Kalo dah lengket masukin ke air panas lagi, gosok lagi." Tidak yakin dengan tips tersebut, saya coba searching dan dapat tips yang lebih lengkap, dari http://oilin.multiply.com. Ini dia tipsnya: Siapkan wadah/panci untuk merebus kaki sapi. Isi dengan air hingga setengahnya. Larutkan satu sendok makan kapur sirih, lalu didihkan. Setelah mendidih, masukkan/celupkan kaki sapi yang mau dibersihkan ke dalam air itu kira-kira satu menit, kemudian angkat. Kemudian keriklah bulu-bulu tesebut menggunakan pisau. Lepaskan kuku pada kaki sapi dengan mencongkelnya, bisa menggunakan tangan, atau obeng. Bulu-bulu ...

Makna Imanan & Ihtisaban

Dari Abu Hurairah a Nabi Muhammad ﷺ bersadba:  مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  “Barang siapa puasa di bulan ramadhan dengan keimanan dan ihtisab, maka dosa-dosanya pasti diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)  Apa makna dengan keimanan dan ihtisab? Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam bukunya "Majalis Syahri Ramadhan." Imanan yaitu dilandasi keimanan kepada Allah dan ridha/rela terhadap kewajiban puasa atas dirinya. Ihtisaban Yaitu berharap ganjaran dan pahala dari Allah semata. Tidak membenci kewajiban puasa, dan tidak ragu terhadap ganjaran dan pahalanya.  Dr Ali bin Yahya Al-Haddadiy, memberikan komentar terhadap hadits ini di halaman webnya https://www.haddady.com :  Tidak bermanfaat amal shaleh seseorang, kecuali ketika dilandasi iman kepada Allah ﷻ , dan mencari balasan dari-Nya, subhanahu wata’ala. Adapun orang yang melaksanakannya tanpa iman, sebagaimana orang-orang munafiq, atau orang ya...

Catatan Kasus Vina Cirebon Dari Sudut Pandang Pendidikan Keluarga Muslim

Di awal munculnya kasus Vina Cirebon, saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti beritanya. Rasanya berita pembunuhan itu hanya menambah galau dan membebani pikiran saja, saking seringnya muncul dan saya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Terlebih sebagai seorang pendidik, berita seperti itu menambah sedih betapa tidak berdampaknya pendidikan nasional, yang saya saat ini masuk sebagai pelakunya. Sampai akhirnya beberapa santri mengajak diskusi tentang film Vina, khususnya tentang tema kerasukan arwah orang yang sudah meninggal, barulah setelah itu saya mau membaca kronologis kasusnya dari sebuah laman berita 1) karena untuk diskusi tersebut saya harus memiliki pengetahuan walau secara umum. Dari sana terpikir untuk menulis catatan berkaitan dengan kasus ini dari sudut pandang sebagai pendidik dan sebagai orang tua. Maka pada artikel singkat ini saya hanya menyoroti aspek tanggung  jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Pertama: Tanggung Pendidikan Anak Dalam Syariat Isl...