Langsung ke konten utama

Analisa 1 Syawal 1434 H (Dalam Perspektif 3 Kriteria: WH, IR 2-3-8, DAN IR 4-6,4)

Sumber: Sang Pencerah

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabrakatuh

Ramadhan 1434 H kali ini memang terasa begitu berbeda denngan Ramadhan-Ramadhan yang lain, khususnya bagi penulis, walau sejatinya memang setiap Ramdhan memang selalu berbeda. Ramadhan 1434 H pun terbilang unik dan sedikit menjadi polemik, dimana untuk memulainya  terdapat perbedaan, yaitu bagi yang memulai 1 Ramadhan 1434 H pada hari Selasa tanggal 9 Juli 2013 M dan pada hari Rabu tanggall 10 Juli 2013 M.

Menurut penulis, bagi yang memulai 1 Ramadhan-nya 9 Juli 2013 M yaitu Muhammadiyah dan lainnya, sedangkan bagi yang memulai 1 Ramadhan-nya 10 Juli 2013 M harus sepakat untuk mengisi bulan Ramadhan kali ini agar lebih berkualitas bagi keimanan dan menuju kepada Ketaqwaan yang paripurna dan istiqomah. Jika dahulu Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, terlepas dari keistimewaanya, juga merupakan manusia seperti manusia-manusia saat ini, maka tentu manusia-manusia saat inipun mampu menggapai hikmah seoptimal mungkin yang berada pada bulan Ramadhan. Walaupun dinamika diskusi terkait perbedaan penentuan 1 Ramadhan 1434 H memang hangat di berbagai media. Namun sangat di sayangkan, ketika penulis mengikuti suatu acara talkshow menjelang sidang itsbat pada 07 Juli 2013 M, pejabat sekelas Wakil Menteri Agama memberikan paparan yang tidak berdasar atas Muhammadiyah terkait sidang itsbat dan parameter (kriteria) yang berkembang di Indonesia. (bisa dilihat di : Youtube)


Kembali kepada poin utama pembahasan, yaitu tentang Analisa 1 Syawal 1434 H yang tentunya juga di nantikan oleh umat Islam yang akan menjalani ibadah shaum selama satu bulan. Disini penulis akan bebricara dalam perspektif 3 kriteria yaitu : Kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal (WH), Kriteria Imkanur Rukyat (IR) 2-3-8, dan Kriteria Imkanur Rukyat (IR) 4-6,4. Sekali lagi perlu diingat, kriteria hisab hakiki Wujudul Hilal (WH) di gunakan oleh Muhammadiyah, sedangkan kriteria Imkanur Rukyat (IR) 2-3-8 dipegang oleh negara-negara yang tergabung dalam MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Sinngapura). Namun ada yang menarik, jika kriteria 2-3-8 yang dipegang MABIMS itu memiliki arti bahwa ketika saat ijtimak, jika salah satu dari 3 kriteria itu sudah terpenuhi maka sudah memenuhi kriteria IR 2-3-8 MABIMS, namun kriteria IR 2-3-8 yang dipegang oleh Pemerintah Indonesia (Kemenag RI) sedikit berbeda, yaitu kriteria IR 2-3-8 sudah memenuhi syarat jika ke-3 syarat diatas sudah sudah terpenuhi. Itu terjadi ketika ada perbedaan jatuhnya Idul Fitri pada 2011, dimana pemerintah Indonesia berbeda dengan negara-negara MABIMS lainnya. Dan untuk kriteria Imkanur Rukyat 4-6,4 yang sejatinya merupakan kriteria IR yang di usulkan oleh Prof. Thomas Djamaludin dari LAPAN yang kini kriteria tersebut di gunakan oleh PERSIS (Peratuan Islam).

Berikut penulis kembali ketengahkan kriteria-kriteria yang akan dibahas :
  1. Kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal (WH)
Kriteria hisab hakiki Wujudul Hilal (WH), dalam menentukan suatu kondisi telah masuk bulan baru memiliki 3 syarat, yaitu :
1)      Telah terjadi ijtimak,
2)      Ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam,
3)      Saat Matahari terbenam, piringan atas Bulan masih berada di atas ufuk
2.   Imkanur Rukyat (2-3-8) MABIMS
Untuk memasuki bulan baru ketika terjadi ijtimak, kriteria Imkanur Rukyat (IR) 2-3-8 ini memiliki syarat :
1)      ketinggian minimal 2 derajat,
2)      jarak bulan-matahari minimal 3 derajat, dan
3)      umur bulan minimal 8 jam
3.   Kriteria Imkanur Rukyat 4-6,4
Untuk memasuki bulan baru, pada saat hari ijtimak, berdasarkan kriteria ini, akan memasuki bulan baru jika :
1)      Jarak Bulan-Matahari >6,40
2)      Beda tinggi Bulan-Matahari > 40.
Untuk kriteria Imkanur Rukyat (IR) 4-6,4 yang digunakan Persatuan Islam (PERSIS) berikut penjelasannya :
Berdasarkan Keputusan Bersama Dewan Hisab Dan Rukyat Dan Dewan Hisbah Nomor: 005/Pp-C.1/A.3/2012 Nomor: 019/Pp-C.1/A.2/2012 Tentang Kriteria Imkanur Rukyah Persis yang memutuskan bahwa:
Pertama         :
Kriteria Imkanur Rukyah harus didasarkan pada prinsip visibilitas hilal yang ilmiah, teruji dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua                      :
Kriteria Imkanur Rukyah yang dimaksud poin (1) pada saat ini adalah jika posisi bulan pada waktu ghurub (terbenam matahari) di salah satu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia :
  1. Beda tinggi antara bulan dan matahari minimal 4 derajat, dan
  2. Jarak busur antara bulan dan matahari minimal sebesar 6.4 derajat

Berikut data astronomi pada Rabu 7 Agustus 2013 M menggunakan aplikasi Accurate Times :
Geocentric Calculation :

By the Name of Allah
Islamic Crescents' Observation Project
Accurate Times 5.3, By Mohammad Odeh

* Settings:-
- Calculations for Shawwal 1434 AH Waxing Crescent (New, Evening).
- Crescent Visibility on: Wednesday  07/08/2013 CE
- Calculations are Done at Best Time at:  18:03 LT
- Calculations are Geocentric.
- INDONESIA Jakarta, Long: 106:50:43,0, Lat: -06:12:41,0, Ele:10,0, Zone:7,00
- Summer time is: Off
- Height above mean sea-level affects rise and set events.
- Refraction Settings: Temperature: 10 °C   Pressure: 1010 mb
- Delta T: 68,34 Second(s)
=======================================================================

G. Conjunction Time: 07/08/2013        CE, 04:51 LT
- Julian Date at Time of Calculations : 2456511,96028

- Sunset :  17:55 LT                             G. Moon Age                         :   +13H 12M
- Moonset : 18:13 LT                              Moon Lag Time                     : +00H 18M

- G. Moon Right Ascension : +09H 28M 22S         G. Moon Declination   : +09°:43':08"
- G. Sun Right Ascension   :  +09H 10M 17S         G. Sun Declination :  +16°:18':06"

- G. Moon Longitude           : +141°:18':50"             G. Moon Latitude   : -04°:55':51"
- G. Sun Longitude              :  +135°:06':29"           G. Sun Latitude   :  -00°:00':01"

- G. Moon Altitude   : +02°:17':43"     G. Moon Azimuth : +280°:02':18"
- G. Sun Altitude      :  -02°:48':04"     G. Sun Azimuth :  +286°:06':11"

- G. Relative Altitude : +05°:05':47"       G. Elongation   :  +07°:55':12"
- G. Relative Azimuth :  -06°:03':52"       G. Phase Angle : +172°:03':33"

- G. Crescent Width   : +00°:00':09"   G. Moon Semi-Diameter  :  +00°:14':57"
- G. Illumination          :  00,48 %        G. Horizontal Parallax   : +00°:54':52"

- G. Magnitude   : -04,75 G. Distance : 399641,00 Km

- According to Odeh Criteria, using the following values at Best Time:
  * Moon-Sun Topocentric Relative Altitude =+04°:11':04" (04,2°)
  * Topocentric Crescent width = +00°:00':07" (0,12')
  * q = -2,21
  * The Crescent Visibility is: Not Visible Even With Optical Aid.

=======================================================================

* Remarks:-
- Date format: dd/mm/yyyy.
- The Prefix 'G.' means Geocentric, and 'T.' means Topocentric.
- For New Crescent: Moon Lag Time = Moonset - Sunset.
- For Old Crescent: Moon Lag Time = Sunrise - Moonrise.
- For New Crescent: Best Time = Sunset + 4/9 (Moon Lag Time).
- For Old Crescent: Best Time = Sunrise - 4/9 (Moon Lag Time).


Topocentric Calculation ;

By the Name of Allah
Islamic Crescents' Observation Project
Accurate Times 5.3, By Mohammad Odeh

* Settings:-
- Calculations for Shawwal 1434 AH Waxing Crescent (New, Evening).
- Crescent Visibility on: Wednesday  07/08/2013 CE
- Calculations are Done at Best Time at:  18:03 LT
- Calculations are Topocentric.
- INDONESIA Jakarta, Long: 106:50:43,0, Lat: -06:12:41,0, Ele:10,0, Zone:7,00
- Summer time is: Off
- Height above mean sea-level affects rise and set events.
- Refraction Settings: Temperature: 10 °C   Pressure: 1010 mb
- Delta T: 68,34 Second(s)
=======================================================================

- T. Conjunction Time                          : 07/08/2013 CE, 03:22 LT
- Julian Date at Time of Calculations : 2456511,96028

- Sunset :  17:55 LT   T. Moon Age :   +14H 41M
- Moonset : 18:13 LT Moon Lag Time : +00H 18M

- T. Moon Right Ascension : +09H 24M 41S T. Moon Declination       : +09°:49':25"
- T. Sun Right Ascension :  +09H 10M 16S   T. Sun Declination   :  +16°:18':07"

- T. Moon Longitude : +140°:24':54"   T. Moon Latitude : -05°:06':56"
- T. Sun Longitude   :  +135°:06':21"   T. Sun Latitude :  -00°:00':03"

- T. Moon Altitude : +01°:22':52"     T. Moon Azimuth : +280°:02':16"
- T. Sun Altitude   :  -02°:48':13"     T. Sun Azimuth   :  +286°:06':11"

- T. Relative Altitude : +04°:11':04"     T. Elongation   :  +07°:22':02"
- T. Relative Azimuth :  -06°:03':55"   T. Phase Angle   : +172°:36':48"

- T. Crescent Width   : +00°:00':07"   T. Moon Semi-Diameter :  +00°:14':58"
- T. Illumination       :   00,41 %           G. Horizontal Parallax       : +00°:54':52"

- T. Magnitude   : -04,69         G. Distance   : 399641,00 Km

- According to Odeh Criteria, using the following values at Best Time:
  * Moon-Sun Topocentric Relative Altitude =+04°:11':04" (04,2°)
  * Topocentric Crescent width = +00°:00':07" (0,12')
  * q = -2,21

  * The Crescent Visibility is: Not Visible Even With Optical Aid.
 =======================================================================
 * Remarks:-
- Date format: dd/mm/yyyy.
- The Prefix 'G.' means Geocentric, and 'T.' means Topocentric.
- For New Crescent: Moon Lag Time = Moonset - Sunset.
- For Old Crescent: Moon Lag Time = Sunrise - Moonrise.
- For New Crescent: Best Time = Sunset + 4/9 (Moon Lag Time).
- For Old Crescent: Best Time = Sunrise - 4/9 (Moon Lag Time).
Simulasi Bulan 7 Agustus 2013 saat ghurub dengan Aplikasi Stellarium
Simulasi Bulan pada 7 Agustus 2013 dengan aplikasi Starry Night Backyard saat ghurub

Data pada tanggal 07 Julli 2013 M berdasar aplikasi Mawaaqit 2001, yaitu :
  • Waktu Ijtimak : 04:51
  • Matahari Terbenam : 55:07
  • Azimut : 286* 18’ 21,6”
  • Bulan Terbenam : 18:12:27
  • Azimut : 279* 45’ 51,8”
  • Saat Matahari Terbenam :
-          Umur Bulan : 13,07 Jam
-          Fase Pencahayaan : 0,47 %
-          Tinggi Dari Horizon : 3* 30’ 11,7”
-          Azimut : 280* 17’ 5,7”
-          Bright Limb : 326* 57’ 32,7”
-          Elongasi : 7* 51’ 28,0”
Maka, untuk data astronomis pada tanggal 7 Juli 2013 (saat ijtimak), dapat disimpulkan bahwa :
1)      Menurut Kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal :
Ijtimak telah terjadi pada 7 Agustus 2013 M Pkl. 04:51 WIB, dan waktu matahari terbenam pada Pkl. 17:55:07 WIB, dan Bulan terbenam pada Pkl. 18:12:27 WIB, tinggi hilal dari horzon 3* 30’ 11,7” (sudah positif). Maka ketiga kriteria Wujudul Hilal sudah terpenuhi, sehingga 1 Syawwal 1434 H jatuh sejak Pkl. 17:55:07 tanggal 7 Agustus 2013 M, dan telah masuk Idul Fitri pada 8 Agustus 2013 M.

2)      Menurut Kriteria Imkanur Rkyat 2-3-8 (MABIMS) :
Ijtimak telah terjadi pada 7 Agustus 2013 M Pkl. 04:51 WIB, dan waktu matahari terbenam pada Pkl. 17:55:07 WIB, dan Bulan terbenam pada Pkl. 18:12:27 WIB, tinggi hilal dari horzon 3* 30’ 11,7” (< 2*)  dimana umur bulan 13,07 Jam dan sudut elongasi 7* 51’ 28,0”. Maka 1 Syawwal 1434 H akan masuk sejak matahari terbenam Pkl. 17:55:07 tanggal 7 Agustus 2013 M, dan telah masuk Idul Fitri pada 8 Agustus 2013 M.
3)      Menurut Kriteria Imkanur Rukyat 4-6,4 (PERSIS) :
Mengingat Persatuan Islam (PERSIS) menggunakan aplikasi Accurate Time dalam menghitung, maka ; Ijtimak telah terjadi pada 7 Agustus 2013 M Pkl. 04:51 WIB, dan waktu matahari terbenam pada Pkl. 17:55:07 WIB, dan Bulan terbenam pada Pkl. 18:12:27 WIB, Beda tinggi antara bulan dan matahari (T. Relative Altitude) 04* 11' 04"  (Idul Fitri pada 8 Agustus 2013 M.)
Garis Tanggal Pada 7 Agustus 2013 M dengan aplikasi Mawaaqit 2001
 
Garis Tanggal Pada 7 Agustus 2013 M dengan aplikasi Accurate Time.

Alhamdulillah, untuk Idul Fitri 1434 H Insyaallah pada ketiga kriteria tersebut jatuh pada hari yang sama, yaitu Kamis tanggal 8 Agustus 2013 M. Namun tentu, kita tidak harus terburu-buru untuk lebih sibuk menghadapi Idul Fitri, ibadah shaum Ramadhan yang kita jalankan harus lebih optimal lagi guna meningkatnya iman dan derajat taqwa benar-benar kita raih.

Adi Damanhuri
Wa Allahu a’lam bishshowwab
Fastabiqul Khoirot
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membersihkan Kaki Sapi

Iedul Qurban 1431 H ini saya mendapatkan 1 kaki sapi. Sudah kebayang, dengan kaki sapi ini saya mau membuat mie kocok atau sup kaki sapi, makanan yang saya sukai. Tiba di rumah, masalah muncul, gimana caranya ngebersihin kaki sapi? Sempat nanya ke tetangga (Umi Imas), dan jawabannya sungguh gampang, katanya: "masukin aja ke air panas, trus gosok sampai bulunya lepas. Kalo dah lengket masukin ke air panas lagi, gosok lagi." Tidak yakin dengan tips tersebut, saya coba searching dan dapat tips yang lebih lengkap, dari http://oilin.multiply.com. Ini dia tipsnya: Siapkan wadah/panci untuk merebus kaki sapi. Isi dengan air hingga setengahnya. Larutkan satu sendok makan kapur sirih, lalu didihkan. Setelah mendidih, masukkan/celupkan kaki sapi yang mau dibersihkan ke dalam air itu kira-kira satu menit, kemudian angkat. Kemudian keriklah bulu-bulu tesebut menggunakan pisau. Lepaskan kuku pada kaki sapi dengan mencongkelnya, bisa menggunakan tangan, atau obeng. Bulu-bulu ...

Makna Imanan & Ihtisaban

Dari Abu Hurairah a Nabi Muhammad ﷺ bersadba:  مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  “Barang siapa puasa di bulan ramadhan dengan keimanan dan ihtisab, maka dosa-dosanya pasti diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)  Apa makna dengan keimanan dan ihtisab? Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam bukunya "Majalis Syahri Ramadhan." Imanan yaitu dilandasi keimanan kepada Allah dan ridha/rela terhadap kewajiban puasa atas dirinya. Ihtisaban Yaitu berharap ganjaran dan pahala dari Allah semata. Tidak membenci kewajiban puasa, dan tidak ragu terhadap ganjaran dan pahalanya.  Dr Ali bin Yahya Al-Haddadiy, memberikan komentar terhadap hadits ini di halaman webnya https://www.haddady.com :  Tidak bermanfaat amal shaleh seseorang, kecuali ketika dilandasi iman kepada Allah ﷻ , dan mencari balasan dari-Nya, subhanahu wata’ala. Adapun orang yang melaksanakannya tanpa iman, sebagaimana orang-orang munafiq, atau orang ya...

Catatan Kasus Vina Cirebon Dari Sudut Pandang Pendidikan Keluarga Muslim

Di awal munculnya kasus Vina Cirebon, saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti beritanya. Rasanya berita pembunuhan itu hanya menambah galau dan membebani pikiran saja, saking seringnya muncul dan saya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Terlebih sebagai seorang pendidik, berita seperti itu menambah sedih betapa tidak berdampaknya pendidikan nasional, yang saya saat ini masuk sebagai pelakunya. Sampai akhirnya beberapa santri mengajak diskusi tentang film Vina, khususnya tentang tema kerasukan arwah orang yang sudah meninggal, barulah setelah itu saya mau membaca kronologis kasusnya dari sebuah laman berita 1) karena untuk diskusi tersebut saya harus memiliki pengetahuan walau secara umum. Dari sana terpikir untuk menulis catatan berkaitan dengan kasus ini dari sudut pandang sebagai pendidik dan sebagai orang tua. Maka pada artikel singkat ini saya hanya menyoroti aspek tanggung  jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Pertama: Tanggung Pendidikan Anak Dalam Syariat Isl...