Langsung ke konten utama

Hidup Penuh Derita. Benarkah ???


“Penuh derita dalam hidup ini ,,,,, :’(.” Demikianlah sebuah status yang pernah muncul dari salah satu teman di facebook. Kontan status ini mengundang komentar dari beberapa temannya, termasuk saya. Ada yang mendukung, ada juga yang menyanggah pernyataan tersebut. Saya termasuk orang yang menyanggah, dengan kata lain saya adalah di pihak yang kontra terhadap status tersebut.

Life is beautiful
Dalam pandangan saya kemalangan atau kebahagiaan sangat ditentukan oleh persepsi kita sendiri. Kejadian yang sama, akan berdampak berbeda pada orang yang berbeda, tergantung dari sudut mana dia melihatnya. Sebuah contoh: Apa yang anda rasakan jika pada hari raya idul fitri, tiba-tiba anda harus dirawat di rumah sakit? Mungkin sebagian orang akan memilih reaksi marah, kesal, atau bahkan menyalahkan takdir. Karena persepsinya mengatakan, di hari fitri harusnya semua orang berkumpul dengan keluarga. Maka tidak adil jika tiba-tiba harus berbaring di rumah sakit, terpisah dari keramaian dan kehangatan keluarga.


Berbeda dengan seorang yang diceritakan dalam sebuah buku berjudul “Life Is Beautiful.” Di hari yang fitri dia harus masuk rumah sakit dan dirawat. Luar biasanya, dia melihat masuknya dia ke rumah sakit sebagai sebuah rahmat, sebagai sebuah kasih sayang Tuhan. Karena dia harus menjalani diet yang ketat, sementara dia menyadari bahwa dirinya orang yang tidak dapat menahan keinginan makannya. Otomatis, dengan masuknya dia ke rumah sakit, membantu dia agar dapat menjalani dietnya dengan tenang, tanpa godaan makanan berlimpah di depan mata. Selain itu, dengan berada di rumah sakit dia dapat beristirahat secara total. Tidak perlu berkeliling mengunjungi sanak famili, melainkan dialah yang dikunjungi seluruh sanak famili seraya mendoakan kesembuhannya.

Dari gambaran di atas dapat kita lihat, bahwa kejadian yang sama akan melahirkan perasaan yang berbeda karena dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Sebagian orang akan melihat ini sebagai musibah atau bahkan ketidakadilan tuhan. Tapi bagi orang yang diceritakan di atas, dia melihat masuk rumah sakit sebagai rahmat dan bukti kasih sayang tuhan. So… penyebab kita menderita, apakah masuk rumah sakitnya atau cara kita melihat fenomena masuk rumah sakit?

Satu contoh lagi. Dalam buku yang sama, “Life Is Beautiful” saya menemukan cerita yang menginspirasi saya untuk mengubah cara pandang saya pada satu kejadian. Bayangkan di suatu pagi yang cerah, seseorang sedang dalam kondisi senang. Dia menikmati cerahnya pagi yang sejuk, sambil bernyanyi-nyanyi lirih dengan lagu-lagu favoritnya. Kemudian, ketika membuka pintu nampak sebuah kotak berwarna coklat tertutup dilengkapi pita di atasnya, seperti sebuah hadiah. Dia pun merasa senang dan mengambil kotak tersebut, yang ternyata dikirim oleh tetangga sebelah. Setelah sampai di dalam rumah dia membuka kotak tersebut. TERNYATA! isi kotak itu adalah kotoran sapi yang bauya langsung menusuk hidungnya. Pertanyaannya apa perasaan kita jika itu terjadi pada kita?

Kita boleh memilih perasaan kesal, marah, jengkel, merasa dihinakan, atau merasa diajak berperang. Mengapa? Karena kotoran sapi, dalam persepsi kita adalah sebuah benda yang menjijikan, dan kita berfikir bahwa tetangga sebelah menganggap rumah kita sebagai tempat sampah dengan menempatkan kotoran di depan rumah kita. Maka kemudian bisa jadi kita langsung melabrak tetangga sebelah dan memberikan balasan setimpal dengan menumpahkan kotoran sapi tersebut ke muka tetangga, misalnya. Sudah dapat dibayankan akan terjadi perang yang lebih seru dibanding perang Amerika vs Vietnam, atau Amerika vs Irak, (btw kok Amerika sih yang kepikiran berperang?). Atau ada yang memiliki recana pembalasan yang lebih mengerikan? Silakan tambahkan di kolom komentar!

Namun ingat, kita juga bisa memilih perasaan bahagia, senang, merasa dibantu, merasa diperhatikan oleh tetangga kita seperti seorang yang bernama Beno. Beno melihat kotoran sapi dari sudut pandang yang lain. Dia melihat tetangganya begitu perhatian dengan pekarangan rumahnya yang terlihat gersang. Kotoran sapi itu dia lihat sebagai bukti kepedulian tetangganya, agar menjadi pupuk pekarangan rumahnya supaya tanahnya lebih subur. Dia pun merasa bahagia dan terpikir untuk membalas memberi hadiah atas kebaikan tetangganya, atau sekedar menyampaikan terima kasih.
Pertanyaan yang sama. Apakah yang membuat kita merasa jengkel, kesal, marah, dihinakan atau dilecehkan karena kotoran sapi? Atau cara kita melihat kotoran sapi tersebut?


Sebuah cerita terakhir. Bayangkan kita sedang membawa kendaraan dengan santai. Sambil mengikuti lagu-lagu favorit yang dilantunkan dari mp3 kendaraan kita. Tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi menyalip kita. Hampir saja kendaraan kita keserempet mobil tersebut. Namun kemalangannya bukan hanya itu, ban mobil penyalip tadi memercikan air kotor yang tergenang di tengah jalan mengenai muka dan baju kita. Apa yang akan kita lakukan? Semua tindakan yang akan anda ambil, it’s depends on your perception, your paradigm. (adh)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membersihkan Kaki Sapi

Iedul Qurban 1431 H ini saya mendapatkan 1 kaki sapi. Sudah kebayang, dengan kaki sapi ini saya mau membuat mie kocok atau sup kaki sapi, makanan yang saya sukai. Tiba di rumah, masalah muncul, gimana caranya ngebersihin kaki sapi? Sempat nanya ke tetangga (Umi Imas), dan jawabannya sungguh gampang, katanya: "masukin aja ke air panas, trus gosok sampai bulunya lepas. Kalo dah lengket masukin ke air panas lagi, gosok lagi." Tidak yakin dengan tips tersebut, saya coba searching dan dapat tips yang lebih lengkap, dari http://oilin.multiply.com. Ini dia tipsnya: Siapkan wadah/panci untuk merebus kaki sapi. Isi dengan air hingga setengahnya. Larutkan satu sendok makan kapur sirih, lalu didihkan. Setelah mendidih, masukkan/celupkan kaki sapi yang mau dibersihkan ke dalam air itu kira-kira satu menit, kemudian angkat. Kemudian keriklah bulu-bulu tesebut menggunakan pisau. Lepaskan kuku pada kaki sapi dengan mencongkelnya, bisa menggunakan tangan, atau obeng. Bulu-bulu ...

Makna Imanan & Ihtisaban

Dari Abu Hurairah a Nabi Muhammad ﷺ bersadba:  مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  “Barang siapa puasa di bulan ramadhan dengan keimanan dan ihtisab, maka dosa-dosanya pasti diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)  Apa makna dengan keimanan dan ihtisab? Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam bukunya "Majalis Syahri Ramadhan." Imanan yaitu dilandasi keimanan kepada Allah dan ridha/rela terhadap kewajiban puasa atas dirinya. Ihtisaban Yaitu berharap ganjaran dan pahala dari Allah semata. Tidak membenci kewajiban puasa, dan tidak ragu terhadap ganjaran dan pahalanya.  Dr Ali bin Yahya Al-Haddadiy, memberikan komentar terhadap hadits ini di halaman webnya https://www.haddady.com :  Tidak bermanfaat amal shaleh seseorang, kecuali ketika dilandasi iman kepada Allah ﷻ , dan mencari balasan dari-Nya, subhanahu wata’ala. Adapun orang yang melaksanakannya tanpa iman, sebagaimana orang-orang munafiq, atau orang ya...

Catatan Kasus Vina Cirebon Dari Sudut Pandang Pendidikan Keluarga Muslim

Di awal munculnya kasus Vina Cirebon, saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti beritanya. Rasanya berita pembunuhan itu hanya menambah galau dan membebani pikiran saja, saking seringnya muncul dan saya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya. Terlebih sebagai seorang pendidik, berita seperti itu menambah sedih betapa tidak berdampaknya pendidikan nasional, yang saya saat ini masuk sebagai pelakunya. Sampai akhirnya beberapa santri mengajak diskusi tentang film Vina, khususnya tentang tema kerasukan arwah orang yang sudah meninggal, barulah setelah itu saya mau membaca kronologis kasusnya dari sebuah laman berita 1) karena untuk diskusi tersebut saya harus memiliki pengetahuan walau secara umum. Dari sana terpikir untuk menulis catatan berkaitan dengan kasus ini dari sudut pandang sebagai pendidik dan sebagai orang tua. Maka pada artikel singkat ini saya hanya menyoroti aspek tanggung  jawab orang tua dalam mendidik anaknya. Pertama: Tanggung Pendidikan Anak Dalam Syariat Isl...