"Orang Indonesia rata-rata menganut Budaya Sekolah, bukan budaya belajar." Demikian ungkap seorang anak yang memilih jalur homeschooling. "Budaya sekolah itu berarti mereka pergi ke sekolah setiap pagi dan pulang setelah siang atau sore. Namun ketika ditanya apa yang mereka dapatkan di sekolah, mereka bingung menjawabnya karena mereka tidak mempelajari apapun. Beda dengan budaya belajar, walaupun tidak pergi ke sekolah setiap hari, namun setiap hari pengetahuan terus diupdate, karena setiap hari, setiap saat digunakan untuk belajar." Demikian tambahnya. Rupanya alasan inilah yang digunakannya untuk pindah ke jalur homeschooling.
Kalau direnungkan ada benarnya juga bahwa, sekolah tidak selalu identik dengan belajar. Tidak jarang seorang siswa pergi dari rumahnya sejak pagi buta, lengkap dengan seragam dan identitas-identitas sekolahnya. Setibanya di sekolah apa yang mereka lakukan? kadar aktifitas non-belajarnya lebih besar dari pada aktifitas belajanya. Tidak jarang kita menemukan seorang siswa asik memainkan handphone padahal gurunya sedang menerangkan pelajarannya. Atau mereka asik ngobrol dengan tidak menghiraukan gurunya yang sedang berjuang memahamkan murid-muridnya di kelas. Tidak jarang juga kita menemukan siswa yang pindah tidur dari rumah ke kelas. Fenomena-fenomena tidak belajar ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak fenomena tidak belajar yang dilakukan siswa ketika berada di sekolah.
Guru adalah pengajar sekaligus pendidik. Oleh karena itu, guru tidak hanya bertugas mengajarkan mata pelajaran yang diampunya, tapi juga turut membangun sikap dan mental siswanya. Seorang pemerhati pendidikan sekaligus penulis buku-buku parenting, M. Fauzil Azhim, pernah berkata : "ngapain sih perlu sekolah? kalau cuma ingin pinter ya kursuskan saja, selesai." Lalu apa alasannya harus sekolah? Beliau melanjutkan: "Kita perlu sekolah untuk mendapatkan sesuatu yang tidak diajarkan di tempat kursus. Yang tidak diajarkan di kursusan adalah bagaimana caranya membangun karakter."
Salah satu karakter yang perlu dibangun dari seorang siswa adalah karakter/sikap belajar. Selain mengajarkan anak, seorang guru perlu juga membelajarkan anak. Yaitu, menghantarkan anak didiknya menjadi seorang pembelajar. Andrie Wongso adalah salah satu contoh manusia pembelajar. Dia tidak lulus SD. Namun putus sekolah tidak menyebabkannya putus belajar. Hasilnya, sekarang dia menjadi seorang motivator nasional.
Dengan sikap belajar yang sudah terbangun, siswa bisa digiring untuk dapat mengekplorasi ilmu secara mandiri. Perkembangan teknologi informasi saat ini memungkinkan seorang siswa dapat mengakses informasi apapun dan mendapatkan ilmu sebanyak yang dia inginkan. Cukup dengan duduk di depan layar monitor, tinggal akses google, wikipedia, dan sejenisnya, dia sudah bisa mendapatkan ilmu apapun yang dia inginkan. Tapi perlu hal itu bisa dilakukan, jika budaya belajar siswanya sudah dibangun terlebih dahulu. Ketika hal itu sudah terjadi, seorang guru yang hanya mengantarkan siswanya faham dengan pelajarannya, sudah bisa digantikan dengan "mbah google."
wallau a'lam
Kalau direnungkan ada benarnya juga bahwa, sekolah tidak selalu identik dengan belajar. Tidak jarang seorang siswa pergi dari rumahnya sejak pagi buta, lengkap dengan seragam dan identitas-identitas sekolahnya. Setibanya di sekolah apa yang mereka lakukan? kadar aktifitas non-belajarnya lebih besar dari pada aktifitas belajanya. Tidak jarang kita menemukan seorang siswa asik memainkan handphone padahal gurunya sedang menerangkan pelajarannya. Atau mereka asik ngobrol dengan tidak menghiraukan gurunya yang sedang berjuang memahamkan murid-muridnya di kelas. Tidak jarang juga kita menemukan siswa yang pindah tidur dari rumah ke kelas. Fenomena-fenomena tidak belajar ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak fenomena tidak belajar yang dilakukan siswa ketika berada di sekolah.
Guru adalah pengajar sekaligus pendidik. Oleh karena itu, guru tidak hanya bertugas mengajarkan mata pelajaran yang diampunya, tapi juga turut membangun sikap dan mental siswanya. Seorang pemerhati pendidikan sekaligus penulis buku-buku parenting, M. Fauzil Azhim, pernah berkata : "ngapain sih perlu sekolah? kalau cuma ingin pinter ya kursuskan saja, selesai." Lalu apa alasannya harus sekolah? Beliau melanjutkan: "Kita perlu sekolah untuk mendapatkan sesuatu yang tidak diajarkan di tempat kursus. Yang tidak diajarkan di kursusan adalah bagaimana caranya membangun karakter."
Salah satu karakter yang perlu dibangun dari seorang siswa adalah karakter/sikap belajar. Selain mengajarkan anak, seorang guru perlu juga membelajarkan anak. Yaitu, menghantarkan anak didiknya menjadi seorang pembelajar. Andrie Wongso adalah salah satu contoh manusia pembelajar. Dia tidak lulus SD. Namun putus sekolah tidak menyebabkannya putus belajar. Hasilnya, sekarang dia menjadi seorang motivator nasional.
Dengan sikap belajar yang sudah terbangun, siswa bisa digiring untuk dapat mengekplorasi ilmu secara mandiri. Perkembangan teknologi informasi saat ini memungkinkan seorang siswa dapat mengakses informasi apapun dan mendapatkan ilmu sebanyak yang dia inginkan. Cukup dengan duduk di depan layar monitor, tinggal akses google, wikipedia, dan sejenisnya, dia sudah bisa mendapatkan ilmu apapun yang dia inginkan. Tapi perlu hal itu bisa dilakukan, jika budaya belajar siswanya sudah dibangun terlebih dahulu. Ketika hal itu sudah terjadi, seorang guru yang hanya mengantarkan siswanya faham dengan pelajarannya, sudah bisa digantikan dengan "mbah google."
wallau a'lam
Komentar
Posting Komentar